Kamis, 25 Februari 2016

‘Rasa takut, trauma, phobia, kegelisahan, dan lain-lain semuanya terkait dengan mind(gugusan pikiran dan perasaan). Menjadi mindful atau menangani mereka di tataran mental/emosional hanya akan memperkuat mereka. Solusinya adalah mengembangkan intelejensia untuk melampaui mereka.’ 
(This is Truth That too is Truth by Swami Anand Krishna, www.booksindonesia.com)

"Intelejensia yang dimaksud adalah ranah kecerdasan ilahi, ranah kecerdasan alami. Jiwa tidak membutuhkan kenyamanan indrawi. Kenyamanan indrawi berkaitan dengan syaraf yang ada di otak."
-Marhento

Hanyalah ketika Anda bertekad untuk melepaskan mind (gugusan pikiran dan perasaan) Anda, fakultas mental/emosional Anda, barulah fakultas intelejensia mulai berfungsi. Begitu Anda mengakses intelejensia, Anda tidak lagi membutuhkan mind.’
(This is Truth That too is Truth by Swami Anand Krishna)

Orangutan

Gorila dan simpanse hidup berkelompok,
sedangkan orangutan hidup soliter.
Orangutan jantan dewasa menghabiskan hidupnya dalam kesendirian,
kecuali jika musim kawin.
Jika berkelompokpun, jumlahnya tidak lebih dari tiga atau empat.
Seiring dengan perubahan umur dan dinamika antar individu,
kebersamaan itu biasanya sementara.
Ibu akan melepas anak dewasanya.
Jantan akan menyendiri.
Meski penyendiri, tidak berarti orangutan tidak mengenal kesetiaan.
Justru karena sifatnya soliter,
orangutan amat jujur.
Dalam tindakan terkecilnya sekalipun,
manusia selalu dibayangi motivasi sosial,
manusia butuh justifikasi dari lingkungannya.
Orangutan tidak.
Manusia perlu konfirmasi berulang dalam hubungan antarsesama,
entah itu pasangan, sahabat atau keluarga.
Kita gemar menguji cinta.
Orangutan tidak.
Ikatan orangutan terjadi sekali dan bertahan selamanya.

-Kutipan novel Supernova series Partikel karya Dee